Perusahaan akan mempertimbangkan sumber daya dari kinerjanya. Pada dasarnya perusahaan akan memilih sumber daya yang dapat memberikan kinerja berdampak pada profit. Untuk melakukan evaluasi dari kinerja diperlukan sebuah metode bernama balanced scorecard. Balanced scorecard disusun oleh Robert Kaplan dan David Norton. Menurut mereka balanced scorecard merupakan suatu kerangka kerja untuk mengintegrasikan berbagai ukuran yang diturunkan dari strategi perusahaan atau organisasi.
Metode balanced scorecard merupakan pengembangan dari metode kinerja perusahaan yang hanya berupa aspek finansial. Artinya metode ini akan mempertimbangkan aspek finansial dan non-finansial. Sedikitnya ada 4 perspektif yang digunakan yaitu perspektif keuangan (finansial), perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif pembelajaran & pertumbuhan. Konsep balanced scorecard memiliki sistem yang saling keterkaitan. Hal tersebut dimungkinkan karena ada 3 faktor, yaitu:
- Hubungan Sebab Akibat (Cause Effect Relation)
- Faktor Pendorong Kinerja (Performance Driver)
- Keterkaitan dengan masalah finansial (Linkage to Financials)
![]() |
| Sumber: https://repository.its.ac.id/74827/1/2512100102-Undergraduate_Thesis.pdf |
Dari perspektif finansial ada 3 tahap perkembangan industri, yaitu growth (perusahaan menghasilkan produk dan/atau jasa), sustain (perusahaan melakukan investasi dan reinvestasi), dan harvest (memaksimalkan pengembalian kas akibat investasi). Pada perspektif ini, keuangan sebuah organisasi dapat dilihat dari dua pendekatan, yaitu keuangan jangka pendek dan jangka panjang.
Di perspektif customer lebih ke mengidentifikasi kondisi dari pelanggan dan segmen pasar yang telah dipilih oleh perusahaan. Ada 5 aspek didalam mengidentifikasi kondisi pelanggan dan segmen pasar, yaitu pengukuran pangsa pasar, customer retention (pertumbuhan bisnis berdasarkan pertumbuhan bisnis), customer acquisition (penambahan pelanggan baru), customer satisfaction (kepuasan pelanggan), dan customer profitability (menggunakan teknik activity based-costing (ABC)).
Perspektif internal business process menekankan pada rantai nilai, sedangkan pada perspektif learning & growth memantau kesejahteraan dan meningkatkan pengetahuan dari karyawan dengan 3 kategori pengukuran utama, yaitu kompetensi karyawan, daya dukung teknologi, dan budaya-motivasi-penghargaan.
ref:

Komentar