Sepatu yang berkualitas tentu melewati proses yang berkualitas. Namun, proses yang berkualitas tidaklah lengkap tanpa pemeriksaan yang juga berkualitas. Sedikitnya ada 8 tahap pemeriksaan sepatu di FRI atau final random inspection, yaitu:
- Bandingkan MCS dengan sepatu produksi
- MCS merupakan kependekan dari manufacturing confirmation sample yang merupakan contoh dari sepatu hasil development oleh developer. Secara sederhana MCS ini dibandingkan secara langsung dengan sepatu hasil produksi.
- Pengecekan size label
- Size label biasanya berada di baling tongue, pastikan size label telah sesuai dengan karton dari sepatu tersebut.
- Pengecekan bagian dalam sepatu
- Pemeriksaan bagian dalam biasanya dilakukan untuk memastikan tidak ada barang terlarang yang masuk seperti peniti, atau barang yang bisa melukai kaki.
- Pengecekan outsole
- Outsole merupakan bagian bawah sepatu yang bersentuhan langsung dengan lantai. Pastikan outsole tidak terjadi kelunturan atau warna yang berbeda.
- Pengecekan lateral dan medial sepatu
- Medial merupakan sisi lengkung yang mengarah ke dalam sepatu sedangkan lateral merupakan sisi lengkung yang mengarah ke luar sepatu.
- Pengecekan bagian upper sepatu
- Upper biasanya adalah bagian yang di sewing, pastikan tidak kotor.
- Pengecekan wobbling
- Tetakkan sepatu di atas meja datar dan pastikan bahwa sepatu tidak mengalami wobbling.
- Pengecekan bonding
- Lakukan penekanan pada area tempel antara upper dan bottom. Pastikan tidak ada yang open bonding.
![]() |
| sumber: https://pixabay.com/id/vectors/sepatu-olahraga-pakaian-pasangan-29282/ |
Sepatu memiliki proses yang sangat panjang dan tentunya sepatu bersifat padat karya berbeda dengan produk otomotif yang bisa dilakukan secara terkomputerisasi. Karena sifatnya yang padat karya akan membuat human faktor membesar. Pada sisi yang lain karena banyaknya sentuhan manusia tentu kualitas yang dihasilkan berbeda dengan sentuhan mesin. Biasanya 3 masalah terbesar dari produksi sepatu adalah open bonding, over cement, dan unpairing.
Open bonding terjadi karena beberapa faktor, seperti chemical yang tidak dicampur dengan presisi, chamber yang kotor, operator cementing yang kurang teliti, hingga marking last yang tidak baik. Sedangkan over cement seringkali terjadi karena saat attaching yang terlalu kuat dan cementing yang kurang rata. Nah, unpairing terjadi biasanya lebih ke lasting dan sewing. Tiga faktor tersebut yang sering secara berulang terjadi kembali.
ref:

Komentar