Manufaktur mengenal seven tools yang biasa digunakan untuk meningkatkan kualitas, yaitu check sheet, paretto diagram, cause-effect diagram, histogram, control chart, scatter diagram, dan stratification. Lembar periksa digunakan untuk memastikan bahwa proses berjalan sesuai apa yang dituliskan. Setelah proses berjalan sesuai apa yang dituliskan maka akan muncul masalah kualitas yang terjadi. Tidak semua masalah yang akan diselesaikan karena akan memakan waktu, sehingga diperlukan diagram paretto untuk memilih masalah yang memenuhi 80% secara dominan. Setelah masalah didapatkan maka digunakan cause-effect diagram untuk mencari akar dari masalah tersebut. Jika akar masalah dapat ditemukan maka kemungkinan masalah tidak akan berulang menjadi besar. Setelah akar dari masalah ditemukan maka masalah tersebut diteliti menurut distribusi normal melalui histogram. Dengan histogram maka akan lebih mudah untuk menetapkan keputusan.
Setelah keputusan diimplementasikan maka proses di pantau melalui control chart atau peta kendali. Secara sederhana peta kendali memiliki batas atas dan batas bawah. Suatu proses dikatakan tidak terkendali jika melewati batas baik batas bawah maupun batas atas. Terjadinya proses yang diluar kendali ini memiliki banyak faktor, lalu faktor ini diterjemahkan ke dalam diagram tebar atau scatter diagram. Tujuan dari scatter diagram adalah melihat hubungan antarvariabel. Sampai ditemukan berbagai hubungan atau faktor yang mempengaruhi proses maka dibuat stratifikasi data, yaitu pembagian dan pengelompokan data ke kategori yang lebih detail. Dengan data yang lebih detail akan membuat kemungkinan proses dalam kendali secara statistik akan berpeluang besar.
 |
| sumber: https://pixabay.com/id/photos/kunci-lokakarya-mekanik-alat-1380134/ |
Tidak hanya di manufaktur di teknologi informasi juga ada alat-alat yang digunakan demi tercapainya informasi yang diharapkan. Terutama pada sisi developer dan operations. Ada 7 area penting untuk seorang DevOps, yaitu:
- Platform Communication
- Perangkat ini digunakan untuk berkomunikasi antara developer dan operations. Contohnya adalah Slack, Microsoft Teams, Workplace, dan Cisco Webex Teams.
- Cloud Computing
- Infrastruktur untuk menjalankan teknologi informasi seperti server, storage, dan database. Contohnya adalah AWS, Alibaba Cloud, dan Yandex Cloud.
- Integrated Development Environment
- Lingkungan yang digunakan untuk menuliskan kode bahasa pemrograman seperti JavaScript dan Python. Contohnya adalah Visual Studio Code dengan fitur live share.
- Code Commit-Build-Test-Release-Deploy
- Setelah kode dibuat maka akan dimasukkan ke dalam sebuah repository atau version system control, ini disebut code commit, contohnya adalah GitHub dan GitLab. Setelah kode lengkap maka kode dibangun, ini disebut code build, contohnya adalah jenkins dan travis. Setelah dibangun kode akan diuji, ini disebut code test, contohnya gremlin dan testable. Jika code berhasil lolos pengujian maka kode siap dirilis dan diberi nomor versi, ini disebut code release, contohnya docker dan jfrog. Akhirnya kode akan disampaikan ke client, ini disebut code deploy, contohnya heroku dan netlify.
- Monitoring
- Kode yang berhasil disebarkan di production atau sampai ke client perlu dipantau lebih lanjut agar jika terjadi kesalahan dapat diperbaiki sesegera mungkin. Alat yang memungkinkan untuk monitoring adalah promotheus dan dynatrace.
- Infrastructure as a Code
- Cloud computing menyediakan infrastruktur namun perlu dilakukan konfigurasi secara manual yang seringkali menghabiskan banyak waktu. Dengan adanya infrastructure as a code akan memudahkan menyiapkan infrastruktur cloud computing lebih cepat dan dapat berulang. Contoh alatnya adalah terraform dan AWS CloudFormation.
- Microservice
- Dengan microservice sebuah aplikasi akan terpisah menurut komponen tertentu. Hal ini memungkinkan ketika satu komponen mengalami kegagalan tidak akan berpengaruh pada komponen lain. Microservice dapat dibuat dengan container atau serverless. Contoh alat container adalah kubernetes dan openshift, sedangkan contoh alat serverless adalah serverless dan openfaas.
Dari beragam alat atau tools tersebut ada 7 alat yang direkomendasikan, yaitu Slack, AWS, Visual Studio Code, GitHub, Promotheus, Terraform, dan Kubernetes. Perhatikan secara sederhana penjelasan 7 alat DevOps:
- Slack
 |
| sumber: https://pixabay.com/id/photos/kendur-gedung-perkantoran-7503561/ |
Slack merupakan platform untuk berkolaborasi antara developer dan operations. Slack ditulis dengan bahasa JavaScript. Pendirinya adalah Stewart Butterfield, Eric Costello, Cal Henderson, dan Serguei Mourachov. Halaman lengkapnya ada di https://www.slack.com.
- Amazon Web Service
 |
| sumber: https://pixabay.com/id/photos/laptop-meja-kantor-ruang-kerja-6332546/ |
Amazon Web Service merupakan cloud provider terbesar saat ini dengan layanan yang paling lengkap dibandingkan kompetitor seperti Alibaba Cloud dan Yandex Cloud.
- Visual Studio Code
 |
| sumber: https://pixabay.com/id/photos/kode-sumber-pemrograman-web-5421210/ |
Visual Studio Code dibuat oleh Microsoft dan sudah cukup familiar bagi setiap developer. Kemudahan untuk berintegrasi dengan perangkat lain membuatnya lebih unggul. Dengan Visual Studio Code, kode yang dibuat dapat dikoreksi dengan tambahan plugin.
- GitHub
 |
| sumber: https://pixabay.com/id/photos/github-jaringan-sosial-ikon-logo-6648895/ |
Platform berlogo kucing yang digunakan untuk menyimpan code di repository atau versioning control. Perubahan kode akan tercatat.
- Promotheus
 |
| sumber: https://pixabay.com/id/photos/cocok-api-merokok-batang-korek-api-20237/ |
Promoteus digunakan untuk pemantauan infrastruktur. Promoteus direkomendasikan karena memiliki fitur yang cukup untuk memantau.
- Terraform
 |
| sumber: https://pixabay.com/id/photos/surat-surat-nomor-struktur-violet-105257/ |
Dengan Terraform infrastruktur yang ada di Cloud Computing dapat dibuat cukup dengan membuat sebuah kode berformat JSON atau YAML.
- Kubernetes
 |
| sumber: https://pixabay.com/id/photos/vintage-kemudi-kolonel-4230648/ |
Kubernetes digunakan untuk orkestrasi dari banyak container. Dengan menggunakan container maka dimungkinkan membuat aplikasi yang bersifat loosely coupled atau tidak saling bergantung antarkomponen.
Ketujuh area dan ketujuh alat tersebut masih bersifat sederhana dari penerapan DevOps.
ref:
ipqi.org
https://roadmap.sh/devops/
Komentar